Utuhnya dukungan PKS terhadap capres-cawapres SBY-Boediyono sudah tidak tergoyahkan lagi, bahkan dikala ada pemberitaan media tentang kader - kader parpol pendukung SBY-Boediyono yang mblalelo ke pasangan lain, tidak satupun mengarah ke kader PKS. Kondisi ini tentu sedikit kontradiktif jika melihat kenyataan bahwa sebelum pendeklarasian, PKS menjadi partai yang paling "nyaring" menyuarakan keberatannya akan pasangan SBY-Boediyono.
Sinyalmen yang kemudian muncul sebagai partai "Gertak Sambal" atau partai yang idem dito dengan partai lain yang "Oportunis" pun dengan keras dibantah oleh kader PKS dengan segala macam kiat dan penjelasan panjang lebar. PKS tentu mahfum bahwa nama baik yang selama ini sudah terbentuk sedikit terganggu dengan adanya "konfrontasi kecil" dengan partai demokrat, lalu berhasilkah PKS memperbaiki "citra" nya yang sedikit terganggu ?
Ini yang menarik untuk ditunggu, namun alih - alih memperbaiki citra, PKS kembali membuat blunder dengan pernyataan salah satu petingginya yang menyatakan PKS tidak menginginkan posisi mentri Agama, padahal pemilih PKS yang sebagian besar adalah ummat Islam terdidik baik di perkotaan maupun di pelosok desa sebagian besar sangat berkeyakinan bahwa PKS adalah kendaraan yang tepat untuk "membersihkan" departemen Agama dari cengkraman pemikirian orientalis/liberalis serta memurnikan kembali IAIN/UIN sebagai pusat kajian Islam secara akademis di indonesia tanpa tercemar faham Orientalis/Liberalis seperti saat ini.
Bahkan bukan saja posisi mentri agama namun PKS diharapkan juga "mau" mengamankan posisi Mentri Pendidikan sebagai langkah strategis jika IAIN/UIN yang sekarang bernaung dibawah kementrian agama akan berkelit kearah Departemen Pendidikan. Jika melihat keinginan para pemilih PKS ini dengan pernyataan salah satu petingginya bahwa PKS tidak menginginkan posisi mentri agama tentu sebuah blunder besar bagi PKS dan semakin kuat stigma bahwa PKS memang sama dengan partai - partai lainnya pragmatis/oportunis yang berorientasi hanya pada kekuasaan saja.
Pertanyaan yang sekarang menggayut pada benak para pemilih dan pendukung PKS adalah apakah petinggi PKS begitu terpengaruhnya dengan intimidasi buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan wahid institue & ma'arif institute yang notabone punggawa faham orientalis/liberalis sehingga PKS khawatir partainya dianggap partai yang tidak toleran, atau ada kekhawatiran lain mengingat PKS masih berperkara di Mahkamah Konstitusi sementara petinggi Mahkamah Konstitusi juga sudah mewanti - wanti bahwa sebaiknya Mentri Agama tidak berasal dari kalangan partai ?
Jika kembali melihat kebelakang sebelum koalisi di tanda tangani memang begitu kuat usaha - usaha memisahkan PKS dengan capres SBY, mengingat sebagian besar survey masih "menjagokan" SBY, keberadaan PKS dalam gerbong SBY sudah tentu sangat mengganggu agenda - agenda orang - orang orientalis/liberalis yang sedang dan akan dijalankan, sudah tentu gesekan pada saat itu antara PKS dengan Demokrat adalah peluang emas bagi mereka untuk meng-enyahkan PKS dari gerbong SBY. Melihat kenyataan bahwa PKS tetap kuat menempel gerbong SBY dan membahayakan agenda - agenda mereka, rasanya kehadiran buku Ilusi Negara Islam tidak terlalu mengejutkan.
Akankah PKS berkhianat kepada konstituen-nya ? hanya waktu yang bisa menjawab.
