Kamis, 15 Oktober 2009

Asal usul lukisan Nabi Muhammad saw



Bertahun-tahun diterbitkan gambar yang disebut sebagai gambar masa mudanya Nabi Muhammad saw di Iran. Masyarakat Iran di samping menunjukkan rasa suka terhadap gambar itu, mereka juga mempertanyakan keabsahannya. Sebagian menyebutkan bahwa gambar itu dilukis oleh pendeta Buhaira yang sempat mengiringi Nabi Muhammad saw bersama pamannya ke Syam. Pada kenyataannya, banyak yang meragukan jawaban ini.

Tulisan berikut ini adalah usaha untuk mencari sumber asli gambar masa muda Nabi Muhammad saw. Para penulis berusaha mengargumentasikan dari mana asal gambar itu. Namun, kelihatannya, masalah ini senantiasa terbuka untuk dijadikan kajian.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan yang dilakukan oleh Rasul Ja’fariyah dari makalah yang judul aslinya The Story of Picture Shiite Depictions of Muhammad, Pierree Centlivre & Micheline Centlivres-Demont dalam majalah ISIM Review 17, Spring 2006, hal 18-19.

Syiah Iran punya pengalaman yang cukup panjang dalam menggambarkan keluarga Nabi Muhammad saw dan Nabi sendiri. Pada akhir-akhir dekade 90 –an poster yang menggambarkan wajah Nabi Muhammad saw di cetak di Iran dan menjadi salah satu poster terlaris. Dalam poster itu menggambarkan wajah masa muda dari Nabi Muhammad saw.

Saat ini, poster ini dicetak dengan mempergunakan teknologi modern dengan alat dan teknik yang beragam. Sekalipun demikian, struktur gambar masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Warna yang dipakai masih mempertahankan kesederhanaan. Namun, tetap saja memiliki kelebihan yang membedakannya secara mudah dari gambar yang lain seperti pedang Ali as yang memiliki dua mata.

Penggambaran yang akan kami bawakan berbeda dengan penggambaran sebelumnya. Gambar seorang pemuda tampan, mata sendu dan wajah yang menenangkan hati mengingatkan orang akan gambar-gambar di zaman Renaisan. Terutama gambar-gambar tentang pemuda yang dilukis oleh Caravagio seperti lukisan Boy Carrying a Fruit Basket yang berada di galeri Borghese, Roma dan lukisan Saint John The Baptist di museum Capitole. Kelembutan bak beludru, mulut yang setengah terbuka dan tatapan sendu.

Sekalipun ada beberapa naskah dari gambar ini, namun semuanya menunjukkan kesan muda dan di bawahnya tertulis “Muhammad Rasulullah”, bahkan sebagian memberikan informasi lebih detil tentang periode kehidupan Nabi ketika lukisan ini dilukis serta sumber lukisan sekaligus.

Penemuan menarik

Pada tahun 2004, ketika menyaksikan pameran foto dua orang seni rupa Lehnert dan Landrock, secara tidak disengaja akhirnya tersingkap juga sumber poster Iran itu. Itu dapat dilihat di foto Lehnert sepanjang tahun 1904-1906 yang diambilnya di Tunisia. Foto ini kemudian pada dekade 20 –an dicetak dalam kartu ucapan selamat.

Radolf Franz Lehnert (1878-1948) adalah warga negara Chekoslowakia sekarang. Pada tahun 1904 bersama Ernst Heinrich Landorck (1878-1966) berkebangsaan Jerman, bersama-sama menuju Tunisia. Lehnert sebagai fotografer dan Landrock sebagai penerbit dan direktur. Tahun sebelumnya, Lehnert pernah tinggal sebentar di Tunisia. Saat itulah ia jatuh cinta dengan alam di sana dan penduduknya. Keduanya membangun perusahaan L & L yang beroperasi di bidang penerbitan foto-foto dari pemandangan indah Tunisia dan Mesir. Hasilnya adalah ribuan foto dan kartu dengan gambar daerah ini yang dicetak.

Lehnert pernah mengenyam pendidikan di Yayasan Seni Grafis di Vienna. Ia punya hubungan dengan anggota Pictorialist yang menganggap foto sebagai karya seni. Foto-foto Lehnert tidak saja berbicara mengenai gurun pasir, bukit-bukit pasir, pasar dan kawasan penduduk Tunisia, tapi juga foto-foto dari remaja putra dan putri yang umurnya antara anak dan remaja dan masih memiliki wajah antara laki dan wanita. Foto-foto ini biasanya diambil sesuai dengan pesanan pembeli Eropanya. Foto tentang dunia Timur yang memberikan nuansa lain.

Lehnert sangat memanfaatkan kesempatan ini, namun ia juga mengolah kejeniusannya dalam menyiapkan karyanya. Foto-fotonya dicetak dalam bentuk perak, dalam bentuk gambar timbul dan dibuat dalam empat warna. Kebanyakan dari kartu ucapan selamatnya ini dicetak di Jerman sejak tahun 1920 dan disebarkan di Mesir.


Cetakan-cetakan dan teks yang sesuai

Tidak diragukan bahwa kartu yang ditunjukkan dalam bentuk 1, berdasarkan penomoran L & L, nomornya adalah 106 dikenal dengan poster Iran. Yang lebih menarik nama kartu nomor 106 adalah Muhammad. Ini dengan sendirinya dapat menunjukkan mengapa pelukis Iran menjadikannya sebagai model untuk lukisan Nabi Muhammad saw. Tidak ragu lagi, semua naskah yang ada dari foto ini menjadikan foto nomor 106 sebagai contoh dengan perbedaan bahwa naskah pertama lebih sesuai dengan foto yang asli. Dengan demikian, Lehnert tanpa disengaja ditempatkan dalam hati sebuah legenda.

Pertanyaan mengenai hubungan antara wajah Nabi Muhammad saw dan wajah remaja Tunisia belum mendapatkan jawabannya. Lukisan seorang remaja tertawa dengan mulut setengah terbuka, memakai sorban dan bunga melati di telinga. Wajah yang sama dalam kartu yang lain dengan judul Ahmad, seorang remaja Arab dan lain-lainnya.

Kami belum mampu menyingkap perjalanan foto yang dicetak di dekade 20 –an yang sampai di tangan penerbit Teheran dan Qom di dekade 90 –an. Namun, masih ada pertanyaan apa yang menyebabkan penerbit Iran menemukan adanya kesamaan antara wajah Nabi Muhammad semasa remajanya dengan seorang remaja Tunisia?

Sebelum perang dunia pertama, gambar Muhammad di majalah National Geographic pada bulan Januari tahun 1914 dalam sebuah artikel dengan judul “Inja va Anja Dar Shumal Afriqa” (Di sana dan di sini di Utara Afrika), di bawahnya tertulis “Arabi ba Yek Gol” (Seorang Arab dengan sebuah bunga). Pada dekade dua puluhan, kartu seri Tunisia L & L sangat disukai oleh tentara Prancis di Utara Afrika. Pada dekade 80 dan 90 –an banyak buku yang dicetak yang memuat foto-foto ini, namun judulnya bukan Muhammad.

Naskah Iran yang sekarang sudah ada perubahan. Wajah yang menipu itu masih terjaga, namun keindahan wajahnya agak berkurang. Pundak sebelah kirinya agak lebih tertutup dengan kain, mulut dan matanya sudah mengalami perbaikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa seniman Iran berusaha untuk mengurangi sisi keindahan foto Lehnert, sehingga foto itu tidak lagi terlalu menarik dan diberikan tambahan agar terlihat sebagai orang suci.


Akar Kristen?

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sebagian tulisan menganggap bahwa hasil karya ini punya hubungan dengan Kristen dan bukan Islam. Masalah ini memberi justifikasi tidak berdosanya seorang muslim melihat wajah Nabi atau melukiskannya. Lebih dari pada itu, orang-orang Kristen menganggap Nabi Muhammad saw sejak mudanya sebagai pribadi yang suci. Kisah pendeta Kristen Katolik atau Ortodoks bernama Buhaira menyimpulkan itu. Berdasarkan kisah itu, pada abad 9 atau 10 Buhaira berusaha mencari Nabi Muhammad saw berdasarkan tanda-tanda yang dimiliki Nabi di antara pundaknya. Nabi akan datang semestinya berkata: “Ketika saya menengok ke langit dan bintang-bintang, saya merasa di atas bintang-bintang”. Ini juga sebuah alasan disebagian gambar Nabi Muhammad saw ada latar belakang bintang-bintang.

Sekalipun sampai saat ini tidak ada penggambaran tentang wajah Nabi Muhammad saw di masa mudanya, namun penggambaran itu ada dalam bentuk dewasanya. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki kulit putih, mata hitam, alis yang tebal,gGigi teratur dan rambut bergelombang. Bentuk yang digambarkan itu dapat ditemukan dalam poster Iran. Pada hakikatnya ini adalah sebuah gambar dari sebuah gambar lain. Dengan kata lain, pelukis Iran mengambil model Nabi Muhammad saw yang mencerminkan keindahan, keremajaan dan keserasian

Sumber: syakira-travelrental.blogspot.com

Senin, 01 Juni 2009

Akankah PKS jadi berkhianat ???

Utuhnya dukungan PKS terhadap capres-cawapres SBY-Boediyono sudah tidak tergoyahkan lagi, bahkan dikala ada pemberitaan media tentang kader - kader parpol pendukung SBY-Boediyono yang mblalelo ke pasangan lain, tidak satupun mengarah ke kader PKS. Kondisi ini tentu sedikit kontradiktif jika melihat kenyataan bahwa sebelum pendeklarasian, PKS menjadi partai yang paling "nyaring" menyuarakan keberatannya akan pasangan SBY-Boediyono.

Sinyalmen yang kemudian muncul sebagai partai "Gertak Sambal" atau partai yang idem dito dengan partai lain yang "Oportunis" pun dengan keras dibantah oleh kader PKS dengan segala macam kiat dan penjelasan panjang lebar. PKS tentu mahfum bahwa nama baik yang selama ini sudah terbentuk sedikit terganggu dengan adanya "konfrontasi kecil" dengan partai demokrat, lalu berhasilkah PKS memperbaiki "citra" nya yang sedikit terganggu ?

Ini yang menarik untuk ditunggu, namun alih - alih memperbaiki citra, PKS kembali membuat blunder dengan pernyataan salah satu petingginya yang menyatakan PKS tidak menginginkan posisi mentri Agama, padahal pemilih PKS yang sebagian besar adalah ummat Islam terdidik baik di perkotaan maupun di pelosok desa sebagian besar sangat berkeyakinan bahwa PKS adalah kendaraan yang tepat untuk "membersihkan" departemen Agama dari cengkraman pemikirian orientalis/liberalis serta memurnikan kembali IAIN/UIN sebagai pusat kajian Islam secara akademis di indonesia tanpa tercemar faham Orientalis/Liberalis seperti saat ini.

Bahkan bukan saja posisi mentri agama namun PKS diharapkan juga "mau" mengamankan posisi Mentri Pendidikan sebagai langkah strategis jika IAIN/UIN yang sekarang bernaung dibawah kementrian agama akan berkelit kearah Departemen Pendidikan. Jika melihat keinginan para pemilih PKS ini dengan pernyataan salah satu petingginya bahwa PKS tidak menginginkan posisi mentri agama tentu sebuah blunder besar bagi PKS dan semakin kuat stigma bahwa PKS memang sama dengan partai - partai lainnya pragmatis/oportunis yang berorientasi hanya pada kekuasaan saja.

Pertanyaan yang sekarang menggayut pada benak para pemilih dan pendukung PKS adalah apakah petinggi PKS begitu terpengaruhnya dengan intimidasi buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan wahid institue & ma'arif institute yang notabone punggawa faham orientalis/liberalis sehingga PKS khawatir partainya dianggap partai yang tidak toleran, atau ada kekhawatiran lain mengingat PKS masih berperkara di Mahkamah Konstitusi sementara petinggi Mahkamah Konstitusi juga sudah mewanti - wanti bahwa sebaiknya Mentri Agama tidak berasal dari kalangan partai ?

Jika kembali melihat kebelakang sebelum koalisi di tanda tangani memang begitu kuat usaha - usaha memisahkan PKS dengan capres SBY, mengingat sebagian besar survey masih "menjagokan" SBY, keberadaan PKS dalam gerbong SBY sudah tentu sangat mengganggu agenda - agenda orang - orang orientalis/liberalis yang sedang dan akan dijalankan, sudah tentu gesekan pada saat itu antara PKS dengan Demokrat adalah peluang emas bagi mereka untuk meng-enyahkan PKS dari gerbong SBY. Melihat kenyataan bahwa PKS tetap kuat menempel gerbong SBY dan membahayakan agenda - agenda mereka, rasanya kehadiran buku Ilusi Negara Islam tidak terlalu mengejutkan.

Akankah PKS berkhianat kepada konstituen-nya ? hanya waktu yang bisa menjawab.


TV Causes Learning Lag in Infants

Even infants zone out in front of the television, and it turns out this translates into less time interacting with parents and possible lags in language development, a new study finds.
"We've known that television exposure during infancy is associated with language delays and attentional problems, but so far it has remained unclear why," said lead researcher Dimitri Christakis, director of the Center for Child Health, Behavior and Development at Seattle Children's Research Institute and professor of pediatrics at the University of Washington School of Medicine.

In fact, the American Academy of Pediatrics discourages television watching before the age of 2, a time when critical development, such as language acquisition, occurs. (Christakis said a baby's brain triples in size during the first two years of life, so there's a lot going on in that little noggin.)
To figure out the TV-language link, Christakis and his colleagues rounded up 329 2-month to 4-year-old children and their parents. The kids wore digital devices on random days each month for up to two years that recorded everything they heard or said for 12 to 16 hours. The researchers didn't determine whether the adults and kids were actively watching the television or if it was just on in the background.

Analyses of the recordings revealed that each hour of additional television exposure was linked with a decrease of 770 words (7 percent) the child heard from an adult during the recording session. Hours of television were also associated with a decrease in the number and length of child vocalizations and the back and forth between the child and an adult (called a conversational turn).
"Some of these reductions are likely due to children being left alone in front of the television screen," the researchers write in the June issue of the journal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, "but others likely reflect situations in which adults, though present, are distracted by the screen and not interacting with their infant in a discernible manner."
And interaction is key for baby's brain.

"The reason it's concerning is because we know that hearing adults speak and being spoken to are critical exposures that play a role in infants development in language," Christakis told LiveScience.

With 30 percent of households having televisions on all the time, the researchers wondered how many fewer opportunities there were for children and parents to communicate and socialize.
"My recommendation first is that children under the age of 2 be discouraged from watching television," Christakis said. He added that even if the TV show is intended for the adults, the effect is the same for their children.

(Four of the authors on the paper were employed by the LENA Foundation, which paid for the data collection and develops technology for the screening, diagnosis and treatment of language delays and disorders in children and adults.)

Why Are 'Mama' and 'Dada' a Baby's First Words?
Video - How Babies Learn Music
Baby News and Information
Original Story: TV Causes Learning Lag in Infants

LiveScience.com chronicles the daily advances and innovations made in science and technology. We take on the misconceptions that often pop up around scientific discoveries and deliver short, provocative explanations with a certain wit and style. Check out our science videos, Trivia & Quizzes and Top 10s. Join our community to debate hot-button issues like stem cells, climate change and evolution. You can also sign up for free newsletters, register for RSS feeds and get cool gadgets at the LiveScience Store.